Langsung ke konten utama

Sebuah Sudut Pandang : ABOUT KOTA SOLO




Bengawan Solo
Riwayatmu kini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh
...


Kutipan lagu diatas nampaknya kurang begitu dikenal bagi kalangan muda sekarang, padahal lagu diatas syarat akan nilai sejarah. Tepatnya tahun 1940-an, Gesang menggubahnya dengan terinspirasi dari sebuah sungai yang melewati sebagian daerah Solo. 

Hanya dengan Bengawannya saja bisa menginspirasi seorang gesang untuk menjadikannya sebuah lagu yang melegenda sampai ke Jepang, belum lagi yang lainnya. Apa lagi yang ada di Solo? Sebenarnya ada apa sih di daerah yang namanya Solo?

Untuk menjawabnya, saya yang bukan warga asli Solo mencoba menggali informasi mengenai Solo dari seorang teman yang kebetulan betempat tinggal di Solo. Karena informasi yang akan saya paparkan adalah berdasar perbincangan saya dengan teman saya, jadi sebelumnya saya minta maaf jika nantinya terdapat informasi yang kurang sesuai dengan realitas yang ada atau tidak benar sama sekali. Di luar dari semua itu, yang lebih penting adalah terwujudnya sebuah nilai “berbagi” pengetahuan kepada sesama. Berikut uraiannya :


Nama “Solo”

Nama Solo diambil dari dua kata “So” dan “Lo”. So adalah nama lain dari pohon Melinjo (Gnetum Gnemeon) yang dulunya banyak dibudidayakan di daerah timur Solo sebagai area perkebunan. Sedangkan Lo adalah nama pohon yang banyak tumbuh di bagian barat kota Solo, kayu dari pohon ini dapat diolah menjadi alat musik tradisional jawa. Lah, karena terletak diantara dua area yang banyak ditumbuhi pohon So dan Lo, maka daerah tersebut dinamai dengan nama Solo. 

Namun, ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa nama Solo diambil dari dari nama sebuah pohon asal india yang dulu banyak tumbuh di daerah solo, yakni pohon Sala. Pohon ini sekarang masih berdiri di halaman Keraton Kasunanan Surakarta, sehingga dijadikan bukti kuat bahwa penamaan Kota Solo di masa silam diambil dari nama pohon Sala.
baca selengkapnya

Pemerintahan

bentuk pemerintahan kota Solo tidak bisa lepas dari sejarah lahirnya kota Solo yang dahulunya adalah pecahan dari kerajaan Mataram, Sehingga sampai sekarang di lingkungan keasunanan tetap menjadikan sultan sebagai pemimpin. Sedangkan untuk wilayah Kota dipimpin oleh seorang walikota, berbeda dengan kesultanan Yogyakarta (pecahan kerajaan mataram yang lain) yang menjadikan Sri Sultan Hamengkubuwana X menjadi raja sekaligus Gubernur.


Slogan

Slogan yang di galakan di Kota Solo sekarang adalah The Spirit of Java (Jiwa dari Jawa), yang bermaksud menjadikan kota Solo menjadi pusat kebudayaan jawa. Hal ini tidak lepas dari adanya berbagai budaya yang sampai sekarang masih lestari di Kota Solo, sementara di daerah jawa yang lain sudah hampir punah, Seperti : Wayang, Batik, Gamelan dan lain sebagainya. 

Slogan lain yang ada sebelumnya adalah Solo Berseri (Bersih, sehat Rapi, dan Indah), akronim ini juga bisa di kembangkan menjadi Bersih dari dari tindak korupsi, ini didukung dengan keadaan Solo yang masih “bersih” dari kasus korupsi.


Kenampakan Alam

Dari Solo, kita bisa melihat gunung merapi (Barat), merbabu (Barat Laut) dan lawu (Timur). Jadi kota Solo terkesan menjadi sebuah kota di lembah yang diapit gunung-gunung besar. Kenampakan alam lain yang terdapat di Solo adalah Bengawan (sungai besar) Solo yang merupaka sungai terpanjang di pulau jawa.


Yang Unik dari Solo

Ada banyak hal unik yang hanya dapat ditemukan di Solo. Diantaranya :

- Bus werkudoro

Bus werkudoro adalah bus tingkat untuk keliling kota Solo. Bus ini merupaka 'Oleh-Oleh' Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta Sekarang), yang ketika kepemimpinannya melakukan studi banding mengenai tata letak kota di Inggirs. Dengan hanya membayar Rp. 20.000,00 kita bisa keliling kota Solo selama dua jam penuh.


- Solo Car free day

Sesuai namanya, car free day adalah hari bebas kendaraan bermotor, yang diadakan setiap minggu pagi, yakni pukul 06.00 - 09.00 WIB di jalan Slamet Riyadi dan jalan Juanda. Adanya program ini juga warisan seorang Joko Widodo, saat dia masih menjadi walikota Solo, yang bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor dan sebagai pembiasaan prilaku ramah lingkungan.

- Keberagaman ideologi

Keunikan Solo juga bisa dilihat dari aneka ragam “ideologi” yang berkembang di sana. Di Solo, segala warna “ideologi tumbuh dan berkembang bersama. Bahkan secara gurauan, sering dikatakan bahwa Solo adalah sarang“ekstrimis”. Ekstrim hijau, adalah sebutan untuk menunjuk kepada kelompok garis keras Islam yang ada di Solo. Dalam kaitan ini, pada berbagai kasus, Solo malah sering disebut sebagai sarang teroris. 


Wisata 

Biasanya di akhir sebuah perjalanan wisata, hal yang pasti dilakukan adalah mencari oleh-oleh. Terasa belum lengkap jika telah berbicara banyak mengenai Solo tapi belum menyentuh sisi wisata yang ada di Solo. Berikut adalah beberapa wisata yang bisa dikunjungi sekaligus dijadikan sebagai lahan untuk mencari oleh-oleh dari kota Solo : 
- Sepur kluthuk (melintasi sepanjang jalan slamet riyadi)
- THR(taman hiburan Remaja) Sriwedari dan balekambang
- Pasar malam di jalan mangkunegaran
- Pasar gedhe (tertua)
- Pasar Klewer

Adapun wisata kuliner yang khas dari kota Solo adalah : Cabuk Rambak, Tengkleng, sate Kare, Gudeg Ceker, Tahu Kupat, Bakmi Toprak, Timlo Solo, sate buntel, pecel ndeso, intip
Dengan semua potensi yang ada di kota Solo, Solo dipromosikan menjadi ibukota provinsi jawa tengah.

tengkleng 

Sate Buntel 

Gudeg Ceker

==***== 


Sebenarnya, masih sangat banyak informasi mengenai Kota Solo yang belum tersampaikan dengan tulisan di atas. Namun dengan keterbatasan penulis, hanya itu yang bisa dibagi kepada para pembaca. 

Akhirnya, semoga tulisan di atas bermanfaat bagi pembaca dan penulis. 

Salam Kota Solo... !

==***== 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Pramuka-Baris Berbaris

di postingan ini, saya bagikan makalah pramuka yang dulunya saya buat dalam seleksi racana Sunan Kalijaga Pangkalan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta..

unduh makalah


Semoga bermanfaat..

RISAU PURNAMA SYA’BAN

Kupandangi lagi, Purnama sya’ban berusaha bahasakan sakau Atas rindu yang melebihi batas sangat Mengusik daun yang baru saja terlelap Mengundang alam tuk bersama keluar menyuarakan Hingga angin pun membidik awan Agar awan segera beranjak demi purnama dapat memandang bumi nabawi
Dalam napas berbentuk sekarat Purnama sya’ban memanggil bait             ...Thala’al badru alaina             Min tsaniyyatil wada’... Lalu ia berkata kepada kami,             “Aku terlalu hina saat para anshar menyebut Nur Allah dengan ‘badr’             Sedangkkan aku tak lebih dari bayangan, bekas pancaran wajah-Nya” Tak sempat Ia tunggu jarum detik beranjak, ia berlalu dengan nestapa Wajaba syukru ‘alaina..


Kotagede, 08 Mei 2017

The Starting Point : Kisah Disamping Kematian

Selamat siang sahabat...
Ini adalah tulisan santai perdana saya yang ‘nampil’ di blog saya. Si dashboard mungkin telah ‘pangling’ dengan tuannya -penulis-, karena memang hampir satu tahun, si penulis tidak pernah menyambangi blog. Tapi itu dulu lah, dengan tulisan ini semoga bisa menjadi starting point bagi penulis untuk lebih ‘telaten’ dalam menyapa sahabat-sahabat di dunia maya melalui buah karyanya.
Memang, “bagian terberat dalam melakukan sesuatu adalah mengawalinya” -ehm puitis, hehe-, ini benar-benar terjadi pada penulis. Sebenarnya, hampir tiap hari ada pengalaman-pengalaman baru yang ingin penulis tuangkan dalam tulisan seperti ini. Tapi seremeh apapun pekerjaan, agaknya akan sulit terwujud, jika tanpa didasari tekad dan niat yang kuat, begitupun untuk sekadar menulis.
Udah dulu curhatnya, hehe.. kali ini penulis akan berbagi pengalaman yang baru saja didapat sesaat sebelum penulis membuka laptop dan menulisnya, jadi masih hangat-hangat *ai ayam nih...:v ***
Gini ceritanya, p…